26 May 2017

RETORIKA DAKWAH, BIJAKSANA DALAM ISLAM

BIJAKSANA DALAM ISLAM

(Prepared by Mas Iman)
A’uudzubillaahi minasysyaithaanir rajiim
heart emotikon Bismillahirrahmaniraahim... heart emotikon
Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya. Amma Ba'du
“Allah memberi khikmah kepada siapa yang dikehendaki, barangsiapa yang diberi khikmah maka akan diberi kebaikan yang banyak, dan tidaklah mengambil pelajaran kecuali orang yang mempunyai akal” (QS: al-Baqarah; 269)
Ada satu ajaran agama kita yang sebenarnya penting sekali, tetapi kita semua selaku umat Islam belum begitu memperhatikannya dengan baik atau belum menjadikannya sebagai satu pedoman bagi kehidupan nya, yaitu persoalan “KEBIJAKSANAAN”.
Persoalan ini penting sekali, sebab mempunyai sumber hukum yang jelas dan kuat; banyak sekali ayat-ayat al-Qur’an atau hadits yang menjelaskan-nya. Selain itu, hal bijaksana atau kebijaksanaan ini mempunyai pengaruh yang besar sekali pada sukses atau tidaknya hidup seseorang. Artinya baik atau tidaknya hidup kita, sangat ditentukan oleh ada atau tidaknya sikap bijaksana ini; hidup kita bisa baik, sebab kita bertindak dengan bijaksana (Orang Bijasana , Insya'alloh mampu berlalku adil) , sebaliknya hidup kita bisa hancur tak terkirakan, juga karena kita tidak bisa bertindak dengan bijaksana.
Islam adalah agama yang bijaksana dan, dengan demikian, Islam mengajarkan kebijaksanaan.
Dalam al-Qur’an (atau dalam bahasa Arab umumnya), bijaksana atau kebijaksanaan ini disebut dengan “al-khikmah”, kemudian orang yang bersikap atau bertindak dengan bijaksana disebut “hakim”. (kalau kita pernah mendengar sebutan “pak hakim”, ini sebenarnya orang yang harus memutuskan perkara dengan bijaksana).
Allah Subhanahu Wa Ta'ala juga mempunyai sifat al-hakim, yang artinya Maha Bijaksana, (al-hakim ini termasuk asmaul husna). Sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an:
قَالُوْا سُبْحنَكَ لَا عِلْمَ لَنَا اِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا اِنَّكَ اَنْتَ الْعَلِيْمُ الْحَكِيْمُ ]البقرة:32[
Pada akhir ayat ini terdapat kalimat: innaka antal-‘alim al-hakim, yang artinya “Sesungguhnya Engkau Dzat yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”.
Allah juga mempunyai sifat “ahkamul hakimin”, Dzat yang lebih bijaksana, sebagaimana yang disebutkan pada surat al-Thin, ayat terakhir, “alaisa Allah bi ahkamil hakimin”.
Al-Qur-an, kitab suci umat Islam, kitab suci kita semua, juga mempunyai sifat al-hakim, makanya sering kita dengar; al-Qur’anul hakim; artinya al-Qur’an yang bijaksana (misalnya disebutkan pada surat yasin; 2: yasin, wal-Qur’anil hakim. Atau pada surat Luqman; 2: alif lam mim, tilka ayatul kitabil hakim).
Saudara-ku dan Para Sahabat ana , Semua ini menunjukkan bahwa al-Qur’an adalah kitab suci yang mengandung ajaran-ajaran kebijaksanaan. Sepakat ??
Semua nabi dan rasul, termasuk Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam diutus oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala supaya mengajarkan persoalan kebijaksanaan. Sebagaimana Firman Alloh dalam kitab Suci al-Qur’an:
كَمَا اَرْسَلْنَا فِيْكُمْ رَسُوْلًا مِنْكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ ايتِنَا وَيُزَكِّيْكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتبَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُمْ مَالَمْ تَكُوْنُوْا تَعْلَمُوْنَ ]البقرة:151[
“Sebagaimana Kami telah mengutus seorang Rasul di antara kamu supaya membacakan ayat-ayat Kami, mensucikanmu dan mengajarkanmu al-kitab dan kebijaksanaan (al-hikmah) dan mengajarkanmu apa-apa yang belum kamu ketahui.” (QS: al-Baqarah; 151).
Kita semua, umat Islam ini diperintah supaya mengajak keluarga kita, famili kita, saudara dan sahabat kita, juga kepada sesama; yakni mengajak (berdakwah) kepada jalan agama Allah, juga dengan cara yang bijaksana. Sebagaimana firmanNya:
اُدْعُ اِلَى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالمَوْعِظَةِ الحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ اَحْسَنُ
“Ajaklah ke jalan agama Allah, dengan cara bijaksana dan nasehat yang baik serta dengan berdialog yang lebih baik” Ayat ini juga bisa dipahami bahwa sebenarnya setiap kita ini; laki-laki atau perempuan, tua atau muda, semuanya harus menjadi hakim.
Artinya semuanya harus berlaku bijaksana, yaitu hakim yang harus memutuskan perkara dan persoalan dengan bijaksana, setidaknya persoalan kita sendiri atau dengan keluarga.
Perkara atau persoalan kita ini, bisa hanya kecil saja (misalnya, memutuskan untuk makan, untuk menanam padi, dll.), tetapi bisa juga agak besar (misalnya, untuk bekerja ke luar negri, untuk menjual tanah, untuk nikah, untuk membuka usaha, dll). Semua ini membutuhkan keputusan yang bijaksana.
Ya…, kita semua memang menjadi hakim, yang harus memutuskan perkara dengan bijaksana, di mana dan kapan saja, juga dalam kedudukan apa saja; baik ketika menjadi pemimpin, menjadi tokoh masyarakat, menjadi kepala rumah tangga, menjadi bapak, menjadi ibu, menjadi anak, menjadi petani, menjadi pedagang, menjadi guru, dll. yang di amanahkan ALLOH sesuai semua status yang disandang nya , Semua ini memerlukan sikap yang bijaksana atau harus disertai dengan kebijaksanaan.
Banyak sekali contoh-contoh kegagalan dalam hidup ini, hanya karena tidak didasari dengan sikap hidup bijaksana.
Seorang peminpin misalnya, akan hilang kewibawaannya, lalu didemonstrasi, malah dilengserkan, sebab tidak dapat bertindak dengan bijaksana. Kehidupan rumah tangga bisa gagal, tidak bisa rukun dan tidak bisa seiya sekata, sebab masing-masing tidak mampu bertindak dan bersikap dengan bijaksana.
Seorang anak, tidak diperhatikan oleh orang tuanya, sebab prilaku sang anak tidak dilandasi dengan sikap yang bijaksana. Orang tua tidak dihormati putra-putrannya, juga karenan tidak bertindak dengan bijaksana.
Begitu juga, seperti kita ketahui, peperangan yang terjadi di Irak dan negara-negara lain atau di beberapa daerah di negara kita, ini jelas sebagai konsekuensi dari sikap yang tidak bijaksana.
Pada akhirnya, semua perbuatan yang tidak didasari dengan sikap bijaksana, jelas akan berujung kepada kegagalan , kesusahan bahkan kerusakan.
Begitulah, sikap yang tidak bijaksana telah menjadikan semuanya menjadi hancur dan gagal.
Persoalannya. sebenarnya apa yang dimaksud sikap bijaksana atau kebijaksanaan itu?
Dalam beberapa literatur disebutkan, bahwa bijaksana ini merupakan satu sikap atau perbuatan, di mana terjadi keseimbangan antara alasan, kenyataan, dan tujuan.
Dengan demikian yang dimaksud perbuatan bijaksana adalah suatu sikap atau perbuatan yang benar-benar ada :1.kejelasan alasan, 2.proses dan 3.tujuaninya. Ketiganya harus seimbang, selaras, dan jelas.
Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam pernah memberi contoh, dengan sabdanya yang artinya :
“makanlah jika lapar dan berhentilah (dari makan) jika sudah terasa kenyang”. Dari hadits ini bisa dipahami bahwa lapar merupakan alasan dari kenyataan atau perbuatan makan, sedang kenyang (atau tidak terlalu kenyang) adalah tujuan dari makan.
Tindakan bijaksana menuntut adanya kesadaran terhadap apa yang diperbuat.
Sebab tindakan bijaksana, harus lebih dulu memikirkan 1.apa alasannya, 2.apa tujuannya, dan 3.apa yang kita perbuat; jika semuanya sudah jelas lalu apakah ketiga sudah benar dan seimbang.
Maka tindakan bijaksana tentu tidak sama dengan tindakan yang “hantam kromo” dan tanpa pikir panjang. Tindakan bijaksana tidak sama dengan tindakan yang semu dan penuh tipuan, juga tidak sama dengan tindakan emosi, hawa nafsu , merasa benar sendiri apa lagi brutal hamtam kromo sana sini . . .
Sikap atau tindakan bijaksana, sekali lagi, disyaratkan harus ada keseimbangan antara 1.alasan, 2.proses, dan3. tujuan .
Tindakan yang demikian inilah yang akan mendapat kebaikan yang tak terhingga.
Sebagaimana firman Allah: “Allah memberi khikmah kepada siapa yang dikehendaki, barangsiapa yang diberi khikmah maka akan diberi kebaikan yang banyak, dan tidaklah mengambil pelajaran kecuali orang yang mempunyai akal” (QS: al-Baqarah; 269)
Demikianlah, makna bijaksana dan demikianlah janji Allah kepada orang yang bijaksana.
Maka tindakan yang didasari dengan aji mumpung, apa lagi oportunis, tentu bukan perbuatan bijaksana. Sebagaimana telah kita sampaikan di atas bahwa, sebagian besar kita belum melaksanakan ajaran kebijaksanaan ini, meski hal ini sebenarnya merupakan ajaran agama kita, Islam. (why ?? )
Jika kita perhatikan, setidaknya ada tiga kecenderungan masyarakat kita dewasa ini, yang sedikit banyak turut menyebabkan sulitnya untuk bisa berprilaku secara bijaksana. Oleh karenanya sudah saatnya untuk dihindari.
Tiga hal itu adalah::
1. Kecendrungan/ kebiasaan masyarakat dewasa ini, gampang memutuskan atau menyimpulkan, hanya dengan dasar-dasar yang dangkal. Artinya, kita keburu bertindak, padahal belum jelas alasannya. (MENINDAK LANJUTI PRASANGAK2) , Kita keburu mangakui atau berkata “pasti” dan “yakin”, padahal belum didukung dengan data-data yang cukup.
Tindakan yang demikian ini, tentu menjadi hambatan atau penghalang dari sikap bijaksana.
2. Kecendrungan masyarakat yang kedua, adalah mudah menjatuh keputusan, hanya didasarkan pada prasangkanya sendiri. Ini, pengaruhnya pada kita, bahwa kita lalu dengan mudahnya membuat kesimpulan atau bertindak, hanya dengan bimbingan prasangka-prasangka saja. Demikian ini juga jelas menyebabkan perbuatan/sikap yang tidak bijaksana. Makanya, agama kita juga melarang untuk berprasangka ini, apa lagi berburuk sangka.
3. Kemudian yang ketiga, kita semua juga gampang sekali menjatuhkan pilihan, dengan alasan: karena banyak orang telah sama-sama mengakui (atau berpendapat demikian). Artinya sikap kita hanya didasarkan dengan pendapat umum (opini publik). Jika ada orang yang mengatakan, misalnya: “gimana nggak percaya, lha wong semua orang sudah mengatakannya”. Nah sikap demikian ini juga termasuk tidak bijaksana, sebab hanya ikut-ikutan, tidak membuktikannya sendiri.
Jika kita dapat terhindar dari tiga hal tersebut, dimungkinkan kita dapat berlaku lebih bijaksana, Insya Allah. Memang, dalam menjalani hidup ini, kita harus aktif dan dinamis serta harus banyak berbuat, namun tentu saja harus yang baik-baik. Jika memang belum kuat alasannya, lebih baik kita menahan diri. Inilah barangkali maksud dari hadits Nabi saw: “bicaralah yang baik-baik atau lebih baik diam saja”

Dengan Bertauhidullah dan berakhlaqul karimah (Ihsan) - (Insan Mu'min Cerdas , berhati dan ber akal), Insya'alloh kita bisa memiliki kepribadian yang arif - Bijaksana secara islami insya'alloh , aamiin !!

24 April 2017

Bimbingan Penyuluhan Islam

Bimbingan Penyuluhan Islam

Menjadi orangtua pada zaman globalisasi saat ini tidak mudah.  Apalagi jika orangtua mengharapkan anaknya tidak sekadar menjadi anak yang pintar, tetapi juga taat dan salih. Menyerahkan pendidikan sepenuhnya kepada sekolah tidaklah cukup.  Mendidik sendiri dan membatasi pergaulan di rumah juga tidak mungkin. Membiarkan mereka lepas bergaul di lingkungannya cukup berisiko.  Lalu, bagaimana cara menjadi orangtua yang bijak dan arif untuk menjadikan anak-anaknya taat pada syariah?
Asah Akal Anak untuk Berpikir yang Benar
Hampir setiap orangtua mengeluhkan betapa saat ini sangat sulit mendidik anak.  Bukan saja sikap anak-anak zaman sekarang yang lebih berani dan agak ‘sulit diatur’, tetapi juga tantangan arus globalisasi budaya, informasi, dan teknologi yang turut memiliki andil besar dalam mewarnai sikap dan perilaku anak.
“Anak-anak sekarang beda dengan anak-anak dulu.  Anak dulu kan takut dan segan sama orangtua dan guru.  Sekarang, anak berani membantah dan susah diatur.  Ada saja alasan mereka!”
Begitu rata-rata komentar para orangtua terhadap anaknya.  Yang paling sederhana, misalnya, menyuruh anak shalat.  Sudah jamak para ibu ngomel-ngomel, bahkan sambil membentak, atau mengancam sang anak agar mematikan TV dan segera shalat.  Di satu sisi banyak juga ibu-ibu yang enggan mematikan telenovela/sinetron kesayangannya dan menunda shalat. Fenomena ini jelas membingungkan anak.
Pandai dan beraninya anak-anak sekarang dalam berargumen untuk menolak perintah atau nasihat, oleh sebagian orangtua atau guru, mungkin dianggap sebagai sikap bandel atau susah diatur. Padahal bisa jadi hal itu karena kecerdasan atau keingintahuannya yang besar membuat dia menjawab atau bertanya; tidak melulu mereka menurut dan diam (karena takut) seperti anak-anak zaman dulu.
Dalam persoalan ini, orangtua haruslah memperhatikan dua hal yaitu: Pertama, memberikan informasi yang benar, yaitu yang bersumber dari ajaran Islam.  Informasi yang diberikan meliputi semua hal yang menyangkut rukun iman, rukun Islam dan hukum-hukum syariah.  Tentu cara memberikannya bertahap dan sesuai dengan kemampuan nalar anak.  Yang penting adalah merangsang anak untuk mempergunakan akalnya untuk berpikir dengan benar. Pada tahap ini orangtua dituntut untuk sabar dan penuh kasih sayang. Sebab, tidak sekali diajarkan, anak langsung mengerti dan menurut seperti keinginan kita. Dalam hal shalat, misalnya, tidak bisa anak didoktrin dengan ancaman, “Pokoknya kalau kamu nggak shalat dosa. Mama nggak akan belikan hadiah kalau kamu malas shalat!”
Ajak dulu anak mengetahui informasi yang bisa merangsang anak untuk menalar mengapa dia harus shalat.  Lalu, terus-menerus anak diajak shalat berjamaah di rumah, juga di masjid, agar anak mengetahui bahwa banyak orang Muslim yang lainnya juga melakukan shalat.
Kedua, jadilah Anda teladan pertama bagi anak. Ini untuk menjaga kepercayaan anak agar tidak ganti mengomeli Anda—karena Anda hanya pintar mengomel tetapi tidak pintar memberikan contoh.
Terbiasa memahami persoalan dengan berpatokan pada informasi yang benar adalah cara untuk mengasah ketajaman mereka menggunakan akalnya. Kelak, ketika anak sudah sempurna akalnya, kita berharap, mereka mempunyai prinsip yang tegas dan benar; bukan menjadi anak yang gampang terpengaruh oleh tren pergaulan atau takut dikatakan menjadi anak yang tidak ‘gaul’.
Tanamkan Akidah dan Syariah Sejak Dini
Menanamkan akidah yang kokoh adalah tugas utama orangtua.  Orangtualah yang akan sangat mempengaruhi tumbuh dan berkembangnya sendi-sendi agama dalam diri anak. Rasulullah saw. bersabda:
Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Ibu dan bapaknyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi. (HR al-Bukhari).
Tujuan penanaman akidah pada anak adalah agar si anak mengenal betul siapa Allah.  Sejak si bayi dalam kandungan, seorang ibu bisa memulainya dengan sering bersenandung mengagungkan asma Allah.  Begitu sudah lahir, orangtua mempunyai kesempatan untuk membiasakan si bayi mendengarkan ayat-ayat al-Quran.  Pada usia dini anak harus diajak untuk belajar menalar bahwa dirinya, orangtuanya, seluruh keluarganya, manusia, dunia, dan seluruh isinya diciptakan oleh Allah. Itu sebabnya mengapa manusia harus beribadah dan taat kepada Allah.
Lebih jauh, anak dikenalkan dengan  asma dan sifat-sifat Allah. Dengan begitu, anak mengetahui betapa Allah Mahabesar, Mahaperkasa, Mahakaya, Mahakasih, Maha Melihat, Maha Mendengar, dan seterusnya.  Jika anak bisa memahaminya dengan baik, insya Allah, akan tumbuh sebuah kesadaran pada anak untuk senantiasa mengagungkan Allah dan bergantung hanya kepada Allah.  Lebih dari itu, kita berharap, dengan itu akan tumbuh benih kecintaan anak kepada Allah; cinta yang akan mendorongnya gemar melakukan amal yang dicintai Allah.
Penanaman akidah pada anak harus disertai dengan pengenalan hukum-hukum syariah secara bertahap.  Proses pembelajarannya bisa dimulai dengan memotivasi anak untuk senang melakukan hal-hal yang dicintai oleh Allah, misalnya, dengan mengajak shalat, berdoa, atau membaca al-Quran bersama.
Yang tidak kalah penting adalah menanamkan akhlâq al-karîmah seperti berbakti kepada orangtua, santun dan sayang kepada sesama, bersikap jujur, berani karena benar, tidak berbohong, bersabar, tekun bekerja, bersahaja, sederhana, dan sifat-sifat baik lainnya.  Jangan sampai luput untuk mengajarkan itu semua semata-mata untuk meraih ridha Allah, bukan untuk mendapatkan pujian atau pamrih duniawi.
Kerjasama Ayah dan Ibu
Tentu saja, anak akan lebih mudah memahami dan mengamalkan hukum jika dia melihat contoh real pada orangtuanya.  Orangtua adalah guru dan orang terdekat bagi si anak yang harus menjadi panutan.  Karenanya, orangtua dituntut untuk bekerja keras untuk memberikan contoh dalam memelihara ketaatan serta ketekunan dalam beribadah dan beramal salih.  Insya Allah, dengan begitu, anak akan mudah diingatkan secara sukarela.
Keberhasilan mengajari anak dalam sebuah keluarga memerlukan kerjasama yang kompak antara ayah dan ibu. Jika ayah dan ibu masing-masing mempunyai target dan cara yang berbeda dalam mendidik anak, tentu anak akan bingung, bahkan mungkin akan memanfaatkan orangtua menjadi kambing hitam dalam kesalahan yang dilakukannya. Ambil contoh, anak yang mencari-cari alasan agar tidak shalat.  Ayahnya memaksanya agar shalat, sementara ibunya malah membelanya. Dalam kondisi demikian, jangan salahkan anak jika dia mengatakan, “Kata ibu boleh nggak shalat kalau lagi sakit. Sekarang aku kan lagi batuk, nih…”
Peran Lingkungan, Keluarga, dan Masyarakat
Pendidikan yang diberikan oleh orangtua kepada anak belumlah cukup untuk mengantarkan si anak menjadi manusia yang berkepribadian Islam.  Anak juga membutuhkan sosialisasi dengan lingkungan tempat dia beraktivitas, baik di sekolah, sekitar rumah, maupun masyarakat secara luas.
Di sisi inilah, lingkungan dan masyarakat memiliki peran penting dalam pendidikan anak. Masyarakat yang menganut nilai-nilai, aturan, dan pemikiran Islam, seperti yang dianut juga oleh sebuah keluarga Muslim, akan mampu mengantarkan si anak menjadi seorang Muslim sejati.
Potret masyarakat sekarang yang sangat dipengaruhi oleh nilai dan pemikiran materialisme, sekularisme, permisivisme, hedonisme, dan liberalisme merupakan tantangan besar bagi keluarga Muslim.  Hal ini yang menjadikan si anak hidup dalam sebuah lingkungan yang membuatnya berada dalam posisi dilematis.  Di satu sisi dia mendapatkan pengajaran Islam dari keluarga, namun di sisi lain anak bergaul dalam lingkungan yang sarat dengan nilai yang bertentangan dengan Islam.
Tarik-menarik pengaruh lingkungan dan keluarga akan mempengaruhi sosok pribadi anak.  Untuk mengatasi persoalan ini, maka dakwah untuk mengubah sistem masyarakat yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam mutlak harus di lakukan. Hanya dengan itu akan muncul generasi Islam yang taat syariah. Insya Allah.

BOX:

Sembilan Tips Mendidik Anak Taat Syariah
  1. Tumbuhkan kecintaan pertama dan utama kepada Allah.
  2. Ajak anak Anda mengidolakan pribadi Rasulullah.
  3. Ajak anak Anda terbiasa menghapal, membaca, dan memahami al-Quran.
  4. Tanamkan kebiasaan beramal untuk meraih surga dan kasih sayang Allah.
  5. Siapkan reward (penghargaan) dan sakgsi yang mendidik untuk amal baik dan amal buruknya.
  6. Yang terpenting, Anda menjadi teladan dalam beribadah dan beramal salih.
  7. Ajarkan secara bertahap hukum-hukum syariah sebelum usia balig.
  8. Ramaikan rumah, mushola, dan masjid di lingkungan Anda dengan kajian Islam, dimana Anda dan anak Anda berperan aktif.
  9. Ajarkan anak bertanggung jawab terhadap kewajiban-kewajiban untuk dirinya, keluarganya, lingkungannya, dan dakwah Islam.

Model-model komunikasi

Model-model komunikasi

Dari berbagai model komunikasi yang sudah ada, di sini akan dibahas tiga model paling utama, serta akan dibicarakan pendekatan yang mendasarinya dan bagaimana komunikasi dikonseptualisasikan dalam perkembangannya.[4]

Model Komunikasi Linear

Model komunikasi ini dikemukakan oleh Claude Shannon dan Warren Weaver pada tahun 1949 dalam buku The Mathematical of Communication.[7] Mereka mendeskripsikan komunikasi sebagai proses linear karena tertarik pada teknologi radio dan telepon dan ingin mengembangkan suatu model yang dapat menjelaskan bagaimana informasi melewati berbagai saluran (channel).[butuh rujukan] Hasilnya adalah konseptualisasi dari komunikasi linear (linear communication model).[2] Pendekatan ini terdiri atas beberapa elemen kunci: sumber (source), pesan (message) dan penerima (receiver).[4] Model linear berasumsi bahwa seseorang hanyalah pengirim atau penerima.[butuh rujukan] Tentu saja hal ini merupakan pandangan yang sangat sempit terhadap partisipan-partisipan dalam proses komunikasi.[2] Suatu konsep penting dalam model ini adalah gangguan (noise), yakni setiap rangsangan tambahan dan tidak dikehendaki yang dapat mengganggu kecermatan pesan yang disampaikan. Gangguan ini selalu ada dalam saluran bersama sebuah pesan yang diterima oleh penerima. [7]

Model Interaksional

Model interaksional dikembangkan oleh Wilbur Schramm pada tahun 1954 yang menekankan pada proses komunikasi dua arah di antara para komunikator.[4] Dengan kata lain, komunikasi berlangsung dua arah: dari pengirim dan kepada penerima dan dari penerima kepada pengirim. Proses melingkar ini menunjukkan bahwa komunikasi selalu berlangsung. [2] Para peserta komunikasi menurut model interaksional adalah orang-orang yang mengembangkan potensi manusiawinya melalui interaksi sosial, tepatnya melalui pengambilan peran orang lain.[7] Patut dicatat bahwa model ini menempatkan sumber dan penerima mempunyai kedudukan yang sederajat. [8] Satu elemen yang penting bagi model interkasional adalah umpan balik (feedback), atau tanggapan terhadap suatu pesan.[2]

Model transaksional

Model komunikasi transaksional dikembangkan oleh Barnlund pada tahun 1970.[5] Model ini menggarisbawahi pengiriman dan penerimaan pesan yang berlangsung secara terus-menerus dalam sebuah episode komunikasi.[butuh rujukan] Komunikasi bersifat transaksional adalah proses kooperatif: pengirim dan penerima sama-sama bertanggungjawab terhadap dampak dan efektivitas komunikasi yang terjadi. [2] Model transaksional berasumsi bahwa saat kita terus-menerus mengirimkan dan menerima pesan, kita berurusan baik dengan elemen verbal dan nonverbal. Dengan kata lain, peserta komunikasi (komunikator) melalukan proses negosiasi makna.[4]

MODEL-MODEL KOMUNIKASI

Model adalah representasi suatu fenomena, baik nyata ataupun abstrak, dengan menonjolkan unsur-unsur terpenting fenomena tersebut. Menurut Sereno dan Mortensen model komunikasi merupakan deskripsi ideal mengenai apa yang dibutuhkan untuk terjadinya komunikasi. Sedangkan B. Aubrey Fisher mengatakan model adalah analogi yang mengabstraksikan dan memilih bagian dari keseluruhan, unsur, sifat atau komponen yang penting dari fenomena yang dijadikan model.

FUNGSI DAN MANFAAT MODEL

Gordon Wiseman dan Larry Barker mengemukakan ada tiga fungsi model komunikasi: pertama, melukiskan proses komunikasi; kedua, menunjukan hubungan visual; ketiga, membantu dalam mengemukakan dan memperbaiki kemacetan komunikasi. Deutch menyebutkan bahwa model memiliki empat fungsi: mengorganisasikan (kemiripan antara data dan hubungan), prediktif, memungkinkan peramalan dari sekedar tipe ya atau tidak hingga yang kuantitatif yang berkenaan dengan kapan dan berapa banyak, heuristik (menunjukan fakta-fakta dan metode baru yang tidak diketahui), pengukuran, mengukur fenomena yang diprediksi.
Fungsi-fungsi tersebut pada gilirannya merupakan basis untuk menilai suatu model:
·                Seberapa umum (general) model tersebut? Seberapa banyak bahan yang diorganisasikannya, dan seberaa efektif?
·                Seberapa heuristik model tersebut? Apakah ia membantu menemukan hubungan-hubungan baru, fakta, atau metode?
·                Seberapa penting prediksi yang dibuat dari model tersebut bagi bidang penelitian? Seberapa strategis prediksi itu pada tahap perkembangan bidang tersebut?
·                Seberapa akurat pengukuran yang dapat dikembangkan dengan model tersebut?

Irwin D.J. Bross menyebutkan beberapa keuntungan model. model menyediakan kerangka rujukan untuk memikirkan masalah, bila model awal tidak berhasil memprediksi. keuntungan lain pembuatan model adalah terbukanya problem abstraksi.

TIPOLOGI MODEL

Kita dapat menggolongkan model dengan berbagai cara. Model yang lebih penting adalah model simbolik yang terdiri dari model matematik dan model verbal; lalu model fisik yang terdiri dari model ikonik dan model analog.
Model verbal adalah model atau teori yang dinyatakan dengan kata-kata, meskipun bentuknya sangat sederhana. Model verbal sangat berguna terutama untuk menyatakan hipotesis atau menyajikan hasil penelitian. Model verbal ini sering dibantu dengan grafik, diagram, atau gambar. Contohnya adalah model struktur organisasi, yang dilihat dari perspektif komunikasi organisasi, tingkat-tingkat jabatan dan hubungan kerja (komunikasi formal) berbagai jabatan tersebut.
Model fisik secara garis besar terbagi dua, yakni model ikonik yang penampilan umumnya (rupa, bentuk, tanda) menyampaikan objek yang dimodelkan. Seperti model pesawat terbang, maket sebuah gedung atau kompleks. Sebagan model ikonik, selain menyerupai objek aslinya juga menunjukan sebagian fungsi penting objek yang dimodelkan. Contoh terbaik model ikonik ini adalah model kendaraan seperti pesawat terbang, kapal laut, kereta api. Menurut Bross, model menyajikan suatu proses abstraksi. Pesawat terbang yang sebenarnya menyajikan proses suatu abstraksi.
Perkembangan model simbolik, khususnya model matematik penting dalam profesi  ilmuwan. Pembuatan model adalah upaya penting dalam memajukan ilmu pengetahuan dan kuantitas model yang dihasilkannya menandai kematangan ilmiah disiplin tersebut.
Berdasarkan model-model kounikasi Lasswell, Shannon dan Weaver serta Schramm, yang linier namun terkenal itu misalnya, muncul model-model yang sirkuler. Dilihat dari jumlah unsur yang mengidentifikasi dalam fenomena komunikasi, model-model lebih mutahir menambahkan unsur-unsur baru yang dalam model lama tidak disebut. Misalnya lingkungan fisik, seperti dalam model Gudykunst dan Kim. dan konteks waktu dalam model Tubbs.
Model Gerbner merupakan perluasan dari model Lasswell, model Westley dan MacLean dari model Newcomb dan model DeFleur dari model Shannon dan Weaver. Schramm yang mengemukakan teori peluru komunikasi (the bullet theory of communication) sebagai model verbal mengenai efel komunikasi pada tahun 1950-an harus merevisi modelnya tersebut dalam dekade berikutnya.

MODEL-MODEL KOMUNIKASI: SUATU PERKENALAN
Komunikasi bersifat dinamis, sebenarnya komunikasi telah dibuat oleh para pakar.

Model S – R
Model stimulus – respon (S – R) adalah model komunikasi paling dasar. Model ini depengaruhi oleh disiplin psikologi, khususnya yang beraliran behavioristik. Model tersebut menggambarkan stimulus – respons. Model ini menunjukan komunikasi sebagai aksi reaksi yang sederhana. Bila seorang lelaki berkedip kepada seorang wanita, dan wanita itu kemudian tersipu malu, itulah pola S – R.
Pola S – R dapat pula berlangsung negatif, misalnya orang pertama menata kedua orang dengan tajam, dan kedua orang itu balik menatap, atau enunduk malu, atau malah memberontak.

Model Aristoteles
Model Aristoteles adalah model komunikasi paling klasik, yang sering juga disebut model retoris. Komunikasi terjadi ketika seorang pembicara menyampaikan pembicaraannya kepada khalayak dalam upaya mengubah sikap mereka. Tepatnya, ia mengemukakan tiga unsur dasar dalam proses komunikasi, yaitu pembicara (speaker), pesan (message), dan pendengar (listener).


Model Lasswell
Model komunikasi Lasswell berupa ungkapa verbal, yakni
Who
Says What
In Which Channel
To Whom
With What Effect?

Model ini dikemukakan oleh Harold Lasswell tahun 1948 yang menggambarkan proses komunikasi dan fungsi-fungsi yang diembannya alam masyarakat. Lasswell mengemukakan tiga fungsi komunikasi, yaitu: pengawasan lingkungan, korelasi berbagai bagian terpisah dalam masyarakat yang merespon lingkungan, transmisi warisan sosial dari suatu generasi ke generasi lainnya. Lasswell mengaku bahwa tidak semua komunikasi bersifat dua arah.
Model Lasswell sering diterapkan dalam komunikasi massa. Model tersebut mengisyaratkan ahwa lebih dari satu saluran dapat membawa pesan. Model Lasswell dikritik karena model itu tampaknya mengisyaratkan kehadiran komunikator dan pesan yang bertujuan. Model ini juga terlalu menyederhanakan masalah.

Model Shannon dan Weaver
Model awal komunikasi dikemukakan oleh Claude Shannon dan Warren Weaver pada tahun 1949. Model ini sering disebut model matematis atau model teori informasi itu mungkin adalah model yang pengaruhnya paling kuat atas model dan teori komunikasi lainnya. Model Shannon dan Weaver ini menyoroti problem penyampaian pesan berdasarkan tingkat kecermatannya. Dengan kata lain, model Shannon dan Weaver mengasumsikan bahwa sumber informasi menghasilkan pesan untuk dikomunikasikan dari seperangkat pesan yang dimungkinkan. Pemancar (transmitter) mengubah pesan menjadi sinyal yang sesuai dengan saluran yang digunakan. Saluran (channel) adalah medium yang mengirim sinyal (tanda) dari transmitter ke penerima (receiver).
Model Shannon dan Weaver dapat diterapkan kepada konteks-konteks komunikasi lainnya seperti komunikasi antarpribadi, komunikasi publik, dan komunikasi massa.

Model Schramm
Menurut Wilburg Schramm, komunikasi senantiasa membutuhkan setidaknya tiga unsur: sumber (source), pesan (message), dan sasaran (destination). Sumber boleh jadi seorang individu atau suatu organisasi seperti surat kabar, stasiun televisi. Menurut Schramm, setiap orang dalam proses komunikasi adalah sekaligus sebagai enkoder dan dekoder. Kita secara konstan menyandi balik tanda-tanda dari lingkungan kita, menafsirkan tanda-tanda tersebut.

Model Newcomb
Theodore Newcomb memandang komunikasi sebagai perspektif psikologi-sosial. Modelnya menyerupai diagram jaringan kelompok yang dibuat oleh para psikolog sosial dan menyerupai formulasi awal mengenai konsistensi kognitif. Dalam model komunikasi tersebut sering juga disebut model ABX atau model simetri Newcomb menggambarkan bahwa seseorang A, menyampaikan informasi terhadap seorang lainnya, B, mengenai sesuatu, X, model tersebut mengasumsikan bahwa orientasi A kepada B dan terhadap X saling bergantung dan ketiganya merupakan suatu sistem yang terdiri dari empat orientasi.
1.      Orientasi A terhadap X, yang meliputi sikap tehadap X sebagai objek yang harus didekati atau dihindari dan atribut kognitif (kepercayaan dan tatanan kognitif)
2.      Orientasi A terhadap B, dalam pengertian yang sama
3.      Orientasi B terhadap X
4.      Orientasi B terhadap A

Model Westley dan MacLean
Westley dan  MacLean ini dipengaruhi oleh model Newcomb, selain juga oleh Lasswell dan yang lainnya. Mereka menambahkan jumlah peristiwa, gagasan, objek dan orang yang tidak terbatass yang kesemuanya merupakan ”objek orientasi” menempatkan suatu peran C diantara A dan B, dan menyediakan umpan balik. Model Westley dan MacLean mencakup beberapa konsep penting yaitu umpan balik, perbedaan kemiripan komunikasi antarpribadi dengan komunikasi massa, dan pemimpin endapat yang penting sebagai unsur tambahan dalam komunikasi massa.

Model Gerbner
Model Gerbner adalah merupakan perluasan dari model Lasswell. Model ini terdiri dari model verbal dan model dragmatik. Model verbal Gerbner adalah sebagai berikut:
·                Seorang sumber
·                mempersepsi suatu kejadian
·                dan bereaksi
·                melalui suatu alat (maluran, media, rekayasa fisik, fasilitas administratif dan kelembagaan untuk distribusi dan kontrol)
·                untuk menyediakan materi
·                dalam suatu bentuk
·                dan konteks
·                yang mengandung isi
·                yang mempunyai suatu konsekuensi
Model Gerbner menunjukan bahwa sesorang mempersepsi suatu kejadian dan mengirimkan pesan kepadan suatu transmitter yang pada gilirannya mengirimkan sinyal pada pemerima (receiver), dalam transmisi itu sinyal menghadapi gangguan dan mucul sebagai SSS bagi sasaran (destination)

Model Berlo
Model ini dikenal dengan model SMCR (source, message, channel, receiver). Sumber (source) adalah pihak yang menciptakan pesan baik seseorang maupun suatu kelompok.
Pesan (message) adalah terjemahan gagasan kedalam kode simbolik seperti bahasa atau isyarat saluran (channel) adalam medium yang membawa pesan dan penerima (receiver) adalam orang yang menjadi sasaran komunikasi.


Model DeFleur
Menggambarkan komunikasi massa ketimbang komunikasi antar pribadi. Modelnya merupakan perluasan dari model yang dikemukakan para ahli lain khususnya Shannon dan Weaver dengan memasukan perangkan media massa (mass medium service) dan peragkat umpan balik (feedback).

Model Tubbs
Menggambarkan komunikasi yang paling mendasar yaitu komunikasi dua orang (diadik). Model komunikasi Tubbs sesuai dengan konsep komunikasi sebagai transaksi yang mengasumsikan kedua peserta sebagai pengirim sekaligus penerima pesan. Model Tubbs melukiskan baik komunikator satu atau dua terus menerus memperoleh masukan yakni rangsangan baik luar dalam maupun luar dirinya yang sudah berlalu baik yang sudah berlangsung juga semua pengalaman fisik maupun sosial.

Model Interaksional
Model interaksional merujuk pada model komunikasi yang dikembangkan oleh para ilmuwan sosial yang menggunakan perspektif interaksi simbolik dengan tokoh utamanya Herbert dan muridnya Blumer. Model interaksional sangat sulit digambarkan dengan diagramatik. Model verbal lebih disesuaikan dengan model ini.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo Melakukan Sidak Ruang Isolasi Pemudik di Kabupaten Kendal

NAMA   : M Fajri Sobah  NIM       : 1404016069 Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo Melakukan Sidak Ruang Isolasi Pemudik di Kabupa...